• Home
  • unique
  • Krendang atau Kerendang, Begini Sejarahnya
historism_4096pohonkrendang.jpg

Krendang atau Kerendang, Begini Sejarahnya

Histourism - Alwi Shihab, dalam Betawi Queen of  The East, menyebutnya Kerendang. Pemerintah Daerah Chusus Ibukota (DC) Jakarta, nama resmi ibu kota Republik Indonesia saat dipimpin Gubernur Ali Sadikin, menggunakan nama Krendang untuk kelurahan di Kecamatan Tambora, Jakarta Barat itu.
 
Krendang tidak memiliki arti. Kerendang adalah nama sejenis pohon plum. Ernawati Sinaga, dalam tulisan di blog pribadi, menulis di Medan tanaman bernama latin Carissa carandas disebut Buah Renda. Masyarakat Betawi menyebutnya Kerendang. Di beberapa tempat di Pulau Jawa, tanaman ini disebut Samarinda. Dalam Bahasa Inggris, Karendang punya tiga nama; Christ’s Tom, Bengal Currant, dan Natal Plum.
 
Karenda, nama lain pohon ini di masyarakat Melayu di Sumatera Utara, memiliki buah yang bisa dikonsumsi. Jika tak berbuah, karenda tidak ubahnya tanaman hias karena bentuk daunnya kecil, lonjong, dan berwarna hijau tua. Jika sedang berbunga, karenda sangat cantik. Lebih cantik saat buahnya mulai berwarna merah muda, dan merah kehitaman.
 
Yang paling khas dari tanaman keluarga Apocynaceae adalah tingginya yang hanya 1,5 meter, dahan berduri, menjulur ke atas jika di sebelahnya terdapat pohon lain, atau menjalar ke bawah. Di era Hindia-Belanda, pohon kerenda mudah dijumpai di halaman rumah penduduk, hamparan lahan kosong, atau di rawa-rawa di sekujur Kelurahan Krendang dan di banyak wilayah di Jakarta lainnya.
 
Seiring perkembangan zaman, dan sedemikian masif pengubahan fungsi lahan, kerenda lenyap dari kampung-kampung di Jakarta. Di Kelurahan Krendang, wilayah yang menggunakan namanya, kerenda lenyap begitu saja. Penduduk tidak lagi menanam karena rumah-rumah tanpa halaman. Ruang Publik Terbuka Ramah Anak (RPTRA) juga tidak memberinya tempat, akibat ketidak-tahuan pengelola akan identias permukiman mereka.
 
Namun, kerenda mungkin sedikit lebih baik dibanding tanaman kedoya. Andre Ravnic Pasaribu, Lurah Krendang, mencoba menanam kembali tanaman kerenda di halaman kelurahan. Penanaman dilakukan setelah beberapa warga berniat membuat film dokumenter tentang Kelurahan Krendang, dan tanaman kerenda – atau kerendang dalam Bahasa Betawi. Kini, Lurah Andre – demikian lelaki Batak kelahiran Jakarta itu biasa dipanggil masyarakatnya – akan memperkenalkan kembali tanaman itu ke masyarakat.
 
“Saat saya tahu Krendang berasal dari tanaman kerenda, saya mencari tanaman itu dan menanamnya kembali di halaman kelurahan,” ujar Lurah Andre. “Sebagai pimpinan wilayah, saya harus tahu sejarah kelurahan ini. Masyarakat juga harus tahu.”
 
Kampung Krendang, atau Kerendang, tidak ada dalam peta VOC dan Hindia Belanda. Fakta ini mengindikasikan Kampung Krendang, demikian orang-orang tua menyebutnya, adalah perkampungan yang muncul setelah tahun 1945. Pemukim awal Kampung Krendang, menurut Lurah Andre, adalah orang Betawi yang membuka sawah dan perkebunan. Mengutip cerita tutur orang-orang tua di Krendang, Lurah Andre mengatakan pendatang petama di Kampung Krendang adalah orang-orang dari kulon (Banten – red), berikutnya orang-orang Jawa, dan terakhir orang Tionghoa dari Pontianak.
 
“Menurut orang-orang tua, atau pemukim awal, sekujur Kampung Krendang adalah rawa,” kata Lurah Andre. “Pendatang menguruk rawa, membuka sawah, kebun, dan membangun sawah. Tidak aneh jika status tanah di Kelurahan Krendang adalah tanah negara.”
 
Senada dengan Lurah Andre, Langgi – ketua RW 06 dan generasi ketiga penduduk asli Krendang – mengatakan sebagian besar rawa diubah menjadi empang dan dikelola penduduk asli dan pendatang. Sebelum 1960, masih menurut Langgi, Krendang bagian dari Kelurahan Duri dan termasuk wilayah jarang penduduk.
 
“Di penghujung 1950-an, Krendang berkembang akibat banyak pendatang,” kata Langgi. “Empang beralih fungsi menjadi rumah-rumah kontrakan. Rawa dipatok warga asli dan pendatang dan diurug.”
 
Tahun 1960, terjadi pemekaran wilayah. Krendang menjadi kelurahan, terpisah dengan Duri. Tahun itu pula Krendang menjadi kelurahan pertama di Jakarta Barat yang mendapatkan program perbaikan kampung Muhammad Husni Thamrin (MHT). Jalan-jalan di sekujur permukiman Krendang diperbaiki, lengkap dengan fasilitas saluran air di kedua sisi.
 
Letak kelurahan yang tidak jauh dari kawasan bisnis Glodok membuat Krendang cepat berkembang. Memasuki tahun 1980-an, Krendang kedatangan banyak pemukim Tionghoa dari Kalimantan Barat, khususnya Pontianak, yang membuka home industry konveksi.  Rumah-rumah penduduk asli, yang semula dikontrakan, berpindah kepemilikan ke pemukim Tionghoa dan menjadi rumah produksi konveksi.
 
Seperti dua kelurahan di sekitarnya; Jembatan Besi dan Kalianyar, Krendang menjadi permukiman multietnis.Tidak ada etnis mayoritas tapi pendatang Tionghoa dari Kalimantan Barat yang terbanyak. Mereka memegang kendali perekonomian, dengan seluruh masyarakat Kelurahan Krendang menikmati dampaknya.
 

Paling Banyak Dibaca

Artikel Terbaru

Artikel Terkait