historism_2001lompatbatunias.jpg

Desa Para Pelompat Batu

Histourism - Desa wisata Bawomataluo di Pulau Nias, Sumatera Utara telah menjadi destinasi wisata yang banyak diminati oleh wisatawan Nusantara maupun wisatawan mancanegara.
 
Salah satu hal yang menjadi magnet para pelancong untuk menyambangi desa ini adalah atraksi hombo batu atau lompat batu. Penampakan atraksi budaya ini pun pernah menghiasi mata uang rupiah pecahan Rp 1000 di tahun 90-an.
 
Menurut sejarahnya, atraksi lompat batu bermula dari syarat bagi para pemuda desa untuk bisa ikut berperang atau belum.
 
Hal ini dikarenakan dahulu perang antar-wilayah sering terjadi. Setiap wilayah biasanya dipagari dengan bambu setinggi dua meter atau lebih.
 
Oleh sebab itu untuk bisa ikut berperang dan diterima sebagai prajurit raja, seorang pemuda harus bisa melompati bambu yang memagari wilayah lawan.
 
Serta filosofi lainnya yaitu jika ada pemuda yang mampu melompati batu setinggi 2 meter dan tebal 40 cm tersebut maka dianggap telah dewasa dan matang secara fisik.
 
Tradisi ini juga yang menjadi asal mula para pemuda di desa ini berpakaian khas prajurit kerajaan, dengan warna khas Nias, yaitu merah, kuning, dan hitam.
 
Desa Bawomataluo ditinggali oleh setidaknya seribu kepala keluarga. Masyarakat di dalamnya sangat memegang teguh nilai adat istiadat dari leluhur.
 
Warga yang tinggal di dalamnya terus melestarikan budaya Bawomataluo secara turun-temurun dari generasi ke generasi, rumah-rumah adat di dalamnya juga diturunkan ke anak cucu.
 
Beragam pusaka budaya yang dulu dimiliki oleh para leluhur masyarakat Nias masih disimpan dan dirawat dengan seksama.
 
Bagi IDpeople yang ingin menyaksikan atraksi legendaris ini harus membayar dua orang pemuda desa dengan tarif Rp150 ribu untuk dua kali lompatan. Setiap pemuda akan melompat satu kali.

Paling Banyak Dibaca

Artikel Terbaru

Artikel Terkait